![]() |
| Foto: Dokumentasi pribadi |
Renungan Harian Katolik
Minggu, 16 Agustus 2026
Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga
Bacaan: Wahyu 11:19a; 12:1,3-6a,10ab; 1 Korintus 15:20-26; Lukas 1:39-56
Warna Liturgi: Putih
“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.”
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Namun bagi kita yang berada di Flores, perayaan ini hadir dalam suasana yang sangat berbeda. Baru kemarin, Sabtu 15 Agustus 2026, bumi Flores diguncang gempa besar berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami, yang kemudian diakhiri pada pukul 07.30 WIB. Gempa juga diikuti banyak gempa susulan.
Pada saat renungan ini kita baca, banyak keluarga di Flores mungkin masih berada dalam ketakutan. Ada yang meninggalkan rumah karena khawatir bangunan roboh. Ada yang tidur di halaman atau tempat terbuka. Ada keluarga yang sedang mencari anggota keluarganya. Ada yang kehilangan rumah, tempat usaha, atau harta benda. Bahkan laporan sementara BNPB pada Sabtu malam menyebut korban meninggal akibat gempa telah mencapai 47 orang.
Di tengah keadaan seperti ini, bagaimana kita memahami Maria yang hari ini diangkat ke surga?
Maria yang membawa harapan
Injil hari ini menceritakan Maria yang segera pergi mengunjungi Elisabet.
Maria baru saja menerima kabar yang mengubah seluruh hidupnya. Ia mengandung Yesus. Ia sendiri belum mengetahui bagaimana perjalanan hidupnya ke depan. Namun Maria tidak tinggal dalam ketakutan. Ia bangkit dan pergi.
Maria membawa Yesus di dalam dirinya, lalu membawa sukacita kepada Elisabet.
Di sinilah Injil menjadi sangat dekat dengan keadaan Flores hari ini.
Kita mungkin tidak mampu menghentikan gempa. Kita tidak dapat mengembalikan rumah yang roboh dengan satu malam. Kita tidak dapat menghapus begitu saja rasa takut dari hati mereka yang mengalami bencana.
Tetapi kita dapat melakukan sesuatu.
Kita dapat datang.
Kita dapat membantu.
Kita dapat mendengarkan.
Kita dapat berdoa.
Kita dapat berbagi makanan, air, pakaian, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya.
Kita dapat menjadi seperti Maria yang tidak hanya berkata, “Tuhan menyertai kamu”, tetapi juga hadir membawa pertolongan.
Ketika bumi berguncang, jangan biarkan persaudaraan ikut runtuh
Gempa mengguncang tanah. Tetapi jangan sampai gempa juga mengguncang persaudaraan kita.
Inilah salah satu pesan terpenting bagi Flores hari ini.
Dalam situasi bencana, kita bisa melihat sisi terbaik manusia. Orang yang tidak saling mengenal tiba-tiba saling membantu. Tetangga membuka halaman rumahnya. Anak-anak muda membantu evakuasi. Para relawan bergerak membawa bantuan. Gereja, pemerintah, komunitas, dan masyarakat bersama-sama mencari cara untuk meringankan penderitaan.
Inilah wajah iman yang sesungguhnya.
Iman bukan hanya terlihat ketika kita berdiri di dalam gereja dan menyanyikan lagu pujian. Iman menjadi nyata ketika kita berani keluar dari kenyamanan dan hadir di tengah orang yang sedang menderita.
Maria mengajarkan hal itu.
Ia tidak menunggu Elisabet datang kepadanya.
Ia sendiri yang pergi.
Hari ini, mungkin Tuhan juga meminta kita untuk pergi.
Pergi kepada keluarga yang kehilangan rumah.
Pergi kepada tetangga yang ketakutan.
Pergi kepada orang tua yang membutuhkan pertolongan.
Pergi kepada anak-anak yang trauma.
Pergi kepada mereka yang kehilangan orang yang mereka cintai.
“Jiwaku memuliakan Tuhan”
Yang menarik, setelah Maria sampai kepada Elisabet, ia menyanyikan Magnificat:
“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.”
Maria menyanyikan pujian bukan karena hidupnya sedang mudah. Justru ia sedang memasuki jalan yang penuh ketidakpastian.
Ini mengajarkan kepada kita bahwa pujian kepada Tuhan bukan berarti kita menyangkal penderitaan.
Kita boleh menangis.
Kita boleh takut.
Kita boleh berduka.
Kita boleh bertanya kepada Tuhan.
Tetapi di tengah semua itu, kita tidak kehilangan iman bahwa Tuhan tetap bersama kita.
Hari ini mungkin sulit bagi banyak keluarga di Flores untuk berkata, “Hatiku bergembira.”
Tetapi kita masih bisa berkata:
“Tuhan, kami takut, tetapi kami percaya Engkau bersama kami.”
“Tuhan, kami sedang kehilangan, tetapi jangan biarkan kami kehilangan harapan.”
“Tuhan, kami berduka, tetapi kuatkanlah kami untuk saling menopang.”
Maria dan mereka yang sedang kehilangan
Maria adalah seorang ibu.
Karena itu, ketika kita melihat para ibu di Flores yang hari ini mungkin sedang memeluk anak-anak mereka di tempat pengungsian, kita dapat membayangkan betapa dekatnya Maria dengan mereka.
Maria tahu apa artinya kehilangan rasa aman.
Maria tahu apa artinya melarikan diri ketika Herodes mengancam kehidupan Yesus.
Maria tahu apa artinya berdiri di bawah salib dan melihat anaknya menderita.
Karena itu, hari ini kita tidak hanya meminta Maria menjadi pelindung kita. Kita juga belajar dari keteguhan hatinya.
Kepada para ibu yang sedang takut, Maria seolah berkata:
“Jangan menyerah.”
Kepada keluarga yang sedang berduka:
“Peganglah tangan satu sama lain.”
Kepada anak-anak yang ketakutan:
“Engkau tidak sendirian.”
Dan kepada seluruh masyarakat Flores:
“Bangkitlah bersama.”
Flores membutuhkan lebih dari sekadar bantuan
Bencana tidak hanya meninggalkan rumah yang rusak. Ia juga meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat.
Ada ketakutan setiap kali tanah berguncang.
Ada anak-anak yang mungkin takut tidur di dalam rumah.
Ada keluarga yang kehilangan sumber penghasilan.
Ada orang yang kehilangan orang yang dicintainya.
Karena itu, pemulihan Flores tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah dan jalan. Kita juga harus membangun kembali rasa aman, persaudaraan, dan harapan.
Di sinilah Gereja mempunyai tugas besar.
Paroki, KBG, sekolah Katolik, biara, komunitas umat, OMK, kelompok kategorial, dan seluruh umat dipanggil menjadi tempat orang menemukan kembali kekuatan.
Jangan biarkan seorang pun menghadapi bencana seorang diri.
Kalau ada yang kekurangan makanan, kita berbagi.
Kalau ada yang tidak memiliki tempat berteduh, kita membuka ruang.
Kalau ada yang berduka, kita menemani.
Kalau ada yang ketakutan, kita duduk di sampingnya.
Kalau ada yang kehilangan harapan, kita menjadi sahabatnya.
Inilah Magnificat yang hidup.
Dalam bencana, alam mengingatkan kita akan kerapuhan
Gempa juga mengingatkan kita bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas kehidupan.
Dalam beberapa detik, rumah yang dibangun bertahun-tahun dapat runtuh. Jalan yang setiap hari kita lewati dapat terputus. Listrik dan komunikasi dapat terganggu. Gempa kemarin bahkan menyebabkan kerusakan dan hambatan akses di sejumlah wilayah Flores. ([AP News][3])
Kita begitu kecil di hadapan kekuatan alam.
Tetapi justru di tengah kerapuhan itu kita menemukan sesuatu yang lebih besar: solidaritas manusia.
Ketika bangunan runtuh, persaudaraan jangan ikut runtuh.
Ketika jalan terputus, jangan biarkan kasih terputus.
Ketika komunikasi terganggu, jangan biarkan kepedulian berhenti.
Ketika hati diliputi ketakutan, jangan biarkan harapan mati.
Maria mengajarkan kita untuk bangkit
Maria hari ini diangkat ke surga.
Peristiwa ini mengandung pesan tentang kemenangan kehidupan. Allah tidak membiarkan kehidupan berakhir dalam penderitaan. Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bahwa kematian bukanlah kata terakhir.
Bagi keluarga-keluarga yang hari ini kehilangan orang yang mereka cintai karena gempa, iman ini bukan berarti menghilangkan air mata. Tetapi iman memberi kita keberanian untuk percaya bahwa kehidupan mereka berada dalam tangan Allah.
Dan bagi mereka yang masih bertahan, Maria mengajarkan kita untuk bangkit.
Bukan bangkit sendirian.
Tetapi bangkit bersama.
Flores harus bangkit bersama.
Manggarai harus bangkit bersama.
Nagekeo harus bangkit bersama.
Sikka, Ngada, Ende, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan seluruh wilayah yang merasakan dampak bencana ini harus saling menguatkan.
Bukan waktunya bertanya siapa yang paling menderita.
Ini waktunya bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan untuk saudara saya?”
Doa Penutup
Santa Maria, Bunda yang diangkat ke surga, hari ini kami datang kepadamu dengan hati yang berbeda.
Kami datang bukan hanya membawa sukacita perayaan, tetapi juga membawa ketakutan, air mata, dan luka saudara-saudari kami di Flores.
Maria, engkau adalah seorang ibu. Engkau tahu bagaimana rasanya takut kehilangan. Engkau tahu bagaimana rasanya melihat orang yang dikasihi menderita. Karena itu, pandanglah kami, anak-anakmu di tanah Flores.
Peluklah keluarga-keluarga yang kehilangan rumah.
Kuatkanlah mereka yang kehilangan orang yang mereka cintai.
Temanilah mereka yang masih mencari keluarganya.
Hiburkanlah anak-anak yang ketakutan.
Berilah kekuatan kepada para ibu dan ayah yang sedang berusaha menjaga keluarganya.
Berikanlah ketabahan kepada mereka yang sedang berduka.
Tuhan Yesus, kami menyerahkan kepada-Mu seluruh masyarakat Flores yang terdampak gempa.
Lindungilah mereka dari gempa-gempa susulan dan bahaya lain yang masih mungkin terjadi. Berikanlah kebijaksanaan kepada para petugas, relawan, tenaga kesehatan, pemerintah, aparat, para imam, biarawan-biarawati, dan semua orang yang sedang bekerja membantu para korban.
Bukalah jalan bagi bantuan untuk sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Berikanlah makanan kepada mereka yang lapar.
Air kepada mereka yang haus.
Obat kepada mereka yang sakit.
Tempat berteduh kepada mereka yang kehilangan rumah.
Dan terutama, berikanlah harapan kepada mereka yang merasa hidupnya telah runtuh.
Tuhan, jangan biarkan kami hanya menjadi penonton penderitaan.
Gerakkanlah hati kami untuk berbagi.
Ajarlah kami tidak bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?” tetapi bertanya, “Apa yang dapat saya berikan?”
Jadikanlah Gereja di Flores sebagai Gereja yang hadir di tengah penderitaan.
Jadikanlah paroki-paroki kami rumah bagi mereka yang membutuhkan.
Jadikanlah KBG-KBG kami tempat orang saling mengenal, saling menjaga, dan saling menguatkan.
Jadikanlah kaum muda kami tenaga yang siap bergerak.
Jadikanlah para ibu dan bapak kami sumber kebijaksanaan.
Dan jadikanlah seluruh masyarakat Flores sebagai satu keluarga yang tidak meninggalkan siapa pun.
Santa Maria, ajarlah kami seperti engkau yang segera bangkit dan pergi kepada Elisabet.
Hari ini kami pun ingin bangkit.
Bangkit dari ketakutan.
Bangkit dari kesedihan.
Bangkit dari keterpurukan.
Dan bangkit bersama sebagai saudara.
Jika rumah kami rusak, bantu kami membangunnya kembali.
Jika hati kami terluka, sembuhkanlah kami.
Jika harapan kami runtuh, tegakkanlah kami.
Jika kami kehilangan arah, tuntunlah kami kepada Kristus.
Maria, Bunda yang diangkat ke surga, doakanlah Flores.
Doakan Manggarai.
Doakan Nagekeo.
Doakan Sikka, Ngada, Ende, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan seluruh masyarakat NTT yang merasakan dampak gempa ini.
Doakan mereka yang telah pergi mendahului kami.
Dan doakan kami yang masih melanjutkan perjalanan di dunia ini.
Semoga dari tanah yang terguncang ini tumbuh kembali kehidupan.
Dari air mata tumbuh pengharapan.
Dari penderitaan tumbuh persaudaraan.
Dan dari tragedi ini lahir Flores yang semakin kuat, semakin peduli, dan semakin manusiawi.
Santa Maria, Bunda kami, doakanlah kami.
Amin.
