Mei, Rosario, dan Ingatan Panjang Iman di Tanah Manggarai

 

Gambar: www.topnewsntt.com

Di banyak kampung Katolik di Flores, khususnya Manggarai, malam-malam bulan Mei selalu datang dengan suasana yang khas. Setelah pekerjaan kebun selesai dan matahari tenggelam di balik perbukitan, umat mulai berkumpul di rumah-rumah atau kapela kecil lingkungan. Lilin dinyalakan. Patung Maria dihiasi bunga. Lalu suara Rosario perlahan mengalun, menyatukan doa para ibu, bapak, dan anak-anak dalam keheningan malam.


Bagi umat Katolik, Mei dikenal sebagai Bulan Maria — bulan yang secara khusus dipersembahkan untuk menghormati Bunda Maria. Tradisi ini ternyata memiliki sejarah panjang dalam Gereja Katolik dunia sebelum akhirnya tumbuh dan mengakar kuat di Flores dan Manggarai. (detikcom)


Menurut berbagai catatan sejarah Gereja Katolik, penghormatan kepada Maria pada bulan Mei mulai berkembang di Eropa sejak abad pertengahan. Dalam budaya masyarakat Eropa kuno, Mei dikenal sebagai bulan musim semi, masa ketika bunga-bunga bermekaran dan alam kembali hidup setelah musim dingin. Gereja kemudian memaknai simbol kehidupan baru itu sebagai lambang kesucian dan keibuan Maria. (detikcom)


Tradisi devosi Bulan Maria semakin berkembang pada abad ke-18, terutama melalui karya para imam Jesuit dan dukungan para paus di Roma. Salah satu kisah yang paling dikenal datang dari Paus Pius VII. Dalam catatan sejarah Gereja, Paus Pius VII pernah dipenjara oleh pasukan Napoleon pada tahun 1809. Dalam masa penahanannya, ia berdoa memohon pertolongan melalui perantaraan Bunda Maria. Setelah dibebaskan pada 24 Mei, Paus kemudian mendorong devosi khusus kepada Maria selama bulan Mei sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan syukur umat Katolik. (detikcom)


Hingga hari ini, tradisi itu tetap dipertahankan oleh Gereja Katolik dunia. Vatican News secara rutin mempublikasikan kegiatan doa Rosario, prosesi lilin, dan perayaan liturgi Maria setiap bulan Mei di Vatikan dan berbagai gereja di dunia.


Rosario sendiri memiliki sejarah yang tidak kalah panjang. Dalam tradisi Gereja Katolik, doa ini berkembang dari kebiasaan para biarawan abad pertengahan yang menggunakan butiran tasbih untuk menghitung doa-doa mereka. Lambat laun, doa Salam Maria menjadi bagian utama Rosario yang dipadukan dengan permenungan tentang kehidupan Yesus Kristus. (detikcom)


Di Flores dan Manggarai, Rosario hadir bersamaan dengan masuknya iman Katolik melalui para misionaris Portugis sejak abad ke-16. Namun perkembangan besar Katolik baru terjadi pada awal abad ke-20 melalui karya misi para pastor dan bruder dari tarekat Societas Verbi Divini (SVD). Bersamaan dengan itu, devosi kepada Maria dan tradisi Rosario mulai diperkenalkan secara luas kepada masyarakat lokal.


Gambar: Situasi doa Rosario di KBG  SANTA THEODOSIA

Para misionaris saat itu tidak hanya membangun gereja dan sekolah, tetapi juga memperkenalkan doa keluarga. Rosario menjadi sangat dekat dengan masyarakat Manggarai karena sesuai dengan budaya lisan dan kebiasaan berkumpul dalam komunitas.


Di banyak kampung dahulu, Rosario didoakan secara sederhana. Orang-orang duduk melingkar di atas tikar pandan dengan penerangan lampu pelita. Seorang tua memimpin doa dalam bahasa Indonesia atau bahasa Manggarai, sementara anak-anak mengikuti perlahan sambil mendengarkan kisah-kisah tentang Yesus dan Maria.


Tradisi itu kemudian berkembang menjadi kebiasaan tetap setiap bulan Mei dan Oktober. Di beberapa wilayah Manggarai, umat bahkan berjalan dari rumah ke rumah untuk doa Rosario bersama. Patung Maria dihiasi bunga kebun, sementara nyanyian pujian terdengar hingga malam.


Bagi masyarakat Flores, Maria bukan hanya figur suci dalam Kitab Suci, tetapi juga sosok “ina” — ibu yang dekat dengan penderitaan rakyat kecil. Karena itu, Rosario sering menjadi ruang tempat orang membawa kegelisahan hidup: musim tanam yang gagal, keluarga yang sakit, anak yang merantau, hingga harapan akan kedamaian.


Hingga hari ini, tradisi itu tetap bertahan di Manggarai. Di tengah perubahan zaman dan kehidupan modern, suara Rosario masih terdengar dari rumah-rumah umat selama bulan Mei. Kadang tanpa pelita seperti dahulu, tetapi dengan makna yang tetap sama: menjaga iman melalui doa dan kebersamaan.


Daftar Rujukan

  1. Vatican News

  2. Komisi Kateketik KWI – Sejarah Bulan Mei Sebagai Bulan Maria (KomKat KWI)

  3. Detik Jateng – Mengapa Bulan Mei Disebut Bulan Maria (detikcom)

  4. Detik Jogja – Sejarah Doa Rosario (detikcom)

  5. Pena Katolik – Perjalanan Sejarah dan Tradisi Bulan Mei sebagai Bulan Maria (Pen@ Katolik)

  6. HIDUPKATOLIK.com – Inilah Sebabnya Mengapa Bulan Mei Disebut Bulan Maria (HIDUPKATOLIK.com)