| Gambar: erah terima Arca Bunda Maria berlangsung secara simbolik ke wilaya Galatia |
Kamis, 14 Mei 2026. Langit sore di Langgo mulai menunjukkan tanda-tandanya — mendung yang pelan-pelan merayap — namun langkah kaki warga Wilayah Galatia tidak juga melambat. Mereka sudah tahu ke mana harus pergi. Mereka sudah tahu untuk apa mereka datang.
Perempatan STM Langgo menjadi titik pertama yang menandai hari itu sebagai hari yang berbeda.
Di sana, dalam suasana yang sederhana namun penuh rasa, serah terima Arca Bunda Maria berlangsung secara simbolik. Arca yang sebelumnya telah diarak dan dijaga oleh Wilayah Kolose — berangkat dari Biara Hati Kudus Yesus — kini berpindah tangan. Warga Galatia menyambutnya. Bukan sekadar menerima sebuah patung, melainkan menerima sebuah kepercayaan, sebuah tanggung jawab iman.
Terlambat, tapi Tak Kurang Semangat
Prosesi perarakan dijadwalkan pukul 18.30, namun seperti yang kerap terjadi dalam kegiatan komunitas, waktu sedikit molor. Yang menarik — dan yang mungkin paling mengharukan — adalah bahwa keterlambatan itu tidak mengusik semangat siapa pun.
Warga tetap datang. Warga tetap menunggu. Warga tetap berdiri di tempat mereka masing-masing, siap melangkah bersama.
Ketika arak-arakan akhirnya bergerak menuju Langgo Langkas, menuju kediaman salah satu warga yang telah menyediakan rumahnya sebagai tempat peristirahatan arca, suasana yang terbangun bukan sekadar prosesi keagamaan biasa. Ia terasa seperti sebuah perjalanan bersama — dalam arti yang paling harfiah maupun yang paling dalam.
Lalu hujan turun.
Bukan rintik yang bisa diabaikan, melainkan hujan yang sungguh-sungguh turun, membasahi pakaian, membasahi jalan, membasahi semua yang ada di sana. Namun tidak ada yang berbalik. Tidak ada yang memilih pulang.
Bagi warga Galatia yang berjalan malam itu, hujan bukan gangguan. Ia menjadi bagian dari kesaksian — bahwa iman tidak hanya hadir di cuaca yang cerah.
Lima Peristiwa, Satu Hati
Sesampainya arak-arakan di rumah tujuan, arca ditempatkan dengan penuh hormat di atas tatakan yang telah disiapkan. Ruang yang tadinya ramai oleh langkah kaki dan suara prosesi perlahan menjadi hening.
Kemudian, doa Rosario mulai dipanjatkan.
Lima peristiwa. Masing-masing diwakili oleh pengurus wilayah yang berbeda — suara yang bergantian, namun membawa satu arah yang sama. Dalam keheningan yang masih diiringi suara hujan di luar, doa-doa itu naik satu per satu, pelan dan khidmat.
Ada sesuatu yang khas dalam doa Rosario yang dipanjatkan bersama-sama seperti itu — ia bukan sekadar ritual, melainkan sebuah cara komunitas untuk berbicara kepada Tuhan dengan satu suara.
Misa di Tengah Hujan yang Belum Reda
Keesokan harinya, Jumat 15 Mei 2026, pukul 16.30 sore, Wilayah Galatia kembali berkumpul. Kali ini untuk merayakan Misa bersama.
Misa dipimpin langsung oleh Pastor Paroki, RD Kornelis Hardin. Kehadirannya bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa — seorang pastor paroki yang meluangkan waktu untuk hadir langsung di tengah warga wilayah adalah bentuk kepedulian pastoral yang dirasakan, bukan hanya diucapkan.
Suasana misa berlangsung penuh hikmat. Hujan yang sejak sehari sebelumnya sudah menemani prosesi seolah belum ingin pergi — namun di dalam ruangan itu, warga Galatia yang hadir justru tampak semakin larut dalam suasana doa. Seolah hujan di luar menjadi latar yang justru mempertegas keheningan dan kekhusyukan di dalam.
Dalam homilinya, RD Kornelis Hardin menegaskan satu keyakinan yang sudah lama hidup di hati umat Katolik: Bunda Maria adalah pengantara doa.
Ia menggambarkannya dengan cara yang dekat dan manusiawi — Bunda Maria seperti seorang ibu. Dan permintaan seorang ibu, tegasnya, tidak akan ditolak oleh anaknya.
Kalimat itu sederhana. Tapi dalam konteks malam itu — setelah perjalanan dalam hujan, setelah doa Rosario yang dipanjatkan bersama, setelah semua yang sudah dilewati bersama sejak hari sebelumnya — kalimat itu mendarat dengan berat yang berbeda.
Bunda Maria bukan figur yang jauh dan tak terjangkau. Ia adalah ibu yang bisa didatangi. Yang mendengarkan. Yang membawa doa-doa kecil manusia ke hadapan Tuhan.
Terima Kasih yang Tulus
Setelah misa usai, pengurus Wilayah Galatia menyampaikan ucapan terima kasih — dan ucapan itu terasa bukan sekadar basa-basi penutup acara.
Kepada RD Kornelis Hardin, mereka menyampaikan rasa syukur yang tulus atas kesediaan beliau memimpin misa dan menghantar warga dalam perayaan iman ini. Kepada seluruh warga yang telah ambil bagian — yang datang meski terlambat, yang tetap berjalan meski hujan, yang tetap berlutut meski lelah — pengurus menyampaikan penghargaan yang hangat.
Karena pada akhirnya, sebuah prosesi iman tidak bisa berjalan hanya dengan kepanitiaan. Ia berjalan karena ada orang-orang yang memilih hadir.
Perjalanan yang Belum Selesai
Ketika semua rangkaian selesai dan warga mulai beranjak pulang, arca Bunda Maria tidak ikut berhenti.
Ia kembali diarak — kali ini menuju wilayah berikutnya, ke komunitas lain yang sudah menanti dengan cara mereka sendiri.
Prosesi itu terus berjalan. Dari wilayah ke wilayah. Dari tangan ke tangan. Dari doa ke doa.
Seperti iman yang tidak pernah tinggal diam di satu tempat saja — ia selalu bergerak, selalu mencari rumah yang baru, selalu menemukan umat yang rindu menyambutnya.
Wilayah Galatia, Paroki Kumba — Mei 2026