![]() |
| Foto: sumber Pinteres |
Bacaan Injil: Matius 9:18-26
“Anakku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.”
Hari ini Injil menghadirkan dua kisah yang saling bertaut: seorang kepala rumah ibadat yang memohon agar anaknya dibangkitkan, dan seorang perempuan yang telah dua belas tahun menderita pendarahan. Keduanya datang kepada Yesus dengan satu hal yang sama, yaitu iman.
Perempuan itu tidak meminta banyak. Ia hanya berkata dalam hatinya, “Asal kujamah jubah-Nya saja, aku akan sembuh.” Sementara kepala rumah ibadat tetap berharap kepada Yesus, bahkan ketika orang-orang sudah mengatakan bahwa anaknya telah meninggal.
Keduanya mengajarkan bahwa iman tidak lahir ketika semua keadaan baik-baik saja. Iman justru tampak ketika harapan manusia seolah sudah habis.
Bukankah kita juga pernah mengalami saat-saat seperti itu? Ketika doa terasa belum dijawab. Ketika penyakit tak kunjung sembuh. Ketika keluarga dilanda persoalan. Ketika pekerjaan tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Ketika pelayanan di Gereja terasa berat dan melelahkan. Dalam keadaan seperti itu, kita mudah kehilangan harapan. Kita mulai bertanya, “Apakah Tuhan masih mendengar doaku?”
Injil hari ini menjawab pertanyaan itu. Yesus tidak pernah mengabaikan orang yang datang kepada-Nya dengan hati yang percaya. Ia mungkin tidak selalu menjawab menurut waktu yang kita inginkan, tetapi Ia selalu bekerja menurut waktu yang terbaik. Kepada perempuan yang sakit, Yesus berkata, “Tabahkan hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Kalimat ini menunjukkan bahwa mukjizat bukan hanya tentang kesembuhan tubuh, tetapi juga tentang pemulihan hati. Perempuan itu tidak hanya disembuhkan dari penyakitnya, tetapi juga dipulihkan martabatnya setelah bertahun-tahun hidup dalam keterasingan.
Kepada keluarga yang berduka, Yesus membawa kehidupan kembali. Ia menunjukkan bahwa di hadapan Allah, bahkan kematian pun bukan akhir dari segalanya.
Santo Ambrosius pernah berkata, “Iman melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh mata.” Iman membuat kita tetap melangkah, meski jalan di depan belum terlihat jelas.
Hari ini Gereja juga dipanggil menjadi seperti Yesus, menghadirkan harapan bagi mereka yang hampir menyerah. Di tengah dunia yang dipenuhi kecemasan, persaingan, dan keputusasaan, umat Kristiani dipanggil menjadi pembawa penghiburan, bukan penyebar ketakutan; menjadi pembawa harapan, bukan pembawa keputusasaan.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku masih percaya ketika doaku belum dijawab? Apakah aku tetap berharap ketika keadaan tampak mustahil? Apakah kehadiranku membawa harapan bagi orang-orang di sekitarku?
Hari ini, Yesus mengajak kita untuk tidak menyerah. Selama kita masih datang kepada-Nya dengan iman, selalu ada harapan. Sebab bagi Allah, tidak ada keadaan yang terlalu sulit untuk dipulihkan.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, kuatkanlah iman kami ketika kami menghadapi kesulitan dan kekecewaan. Ajarlah kami untuk tetap percaya pada penyelenggaraan-Mu, meski kami belum melihat jawaban atas doa-doa kami. Jadikanlah kami pembawa harapan bagi sesama dan saksi kasih-Mu di tengah dunia. Amin.
