| Foto: Sumber Pinters |
Hari Minggu Biasa XIV
Bacaan Injil: Matius 11:25-30
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” (Catholic Online) (Catholic Index)
Hari ini Yesus menyampaikan salah satu sabda yang paling menghibur dalam Injil. Sebuah undangan yang sederhana, tetapi sangat dalam:
“Datanglah kepada-Ku.”
Bukan datang ketika hidup sudah baik. Bukan datang ketika hati sudah suci. Bukan datang ketika masalah selesai. Tetapi datang justru saat letih, saat berat, saat tidak sanggup lagi. Dan bukankah itulah hidup banyak orang hari ini?
Banyak orang berjalan dengan beban yang tidak terlihat: beban ekonomi, beban keluarga, beban luka batin, beban pekerjaan, beban masa lalu, beban kecemasan akan masa depan. Di luar terlihat kuat. Tetapi di dalam, lelah.
Sering kali kita terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Kita takut terlihat lemah. Kita merasa harus sanggup menanggung semuanya. Tetapi Yesus hari ini berkata: “Serahkan itu kepada-Ku.” Ini bukan ajakan untuk lari dari masalah, tetapi ajakan untuk tidak memikulnya sendirian.
Yesus juga berkata: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” Menarik, Yesus tidak berkata hidup akan tanpa beban. Ia justru menawarkan kuk. Artinya, menjadi murid Kristus tetap punya salib, tetap punya perjuangan. Tetapi bedanya: bersama Dia, beban itu menjadi lebih ringan. Masalah terbesar kita kadang bukan beratnya beban, tetapi cara kita memikulnya tanpa Tuhan.
Bacaan pertama hari ini dari Nabi Zakharia menggambarkan seorang raja yang datang dengan lemah lembut, membawa damai, bukan kekerasan. Itulah wajah Kristus: bukan Tuhan yang menekan, tetapi Tuhan yang merangkul. (Catholic Online)
Santo Agustinus dari Hippo pernah berkata: “Hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Engkau.” Sering kali kelelahan terbesar bukan karena pekerjaan, tetapi karena hati jauh dari Tuhan.
Hari ini kita hidup di zaman yang cepat, bising, dan penuh tuntutan. Banyak orang kehilangan ruang hening. Bahkan dalam hidup menggereja, kadang pelayanan menjadi beban, doa menjadi rutinitas, dan Ekaristi kehilangan rasa perjumpaan. Yesus mengingatkan: iman bukan beban tambahan. Iman adalah tempat istirahat jiwa.
Hari ini mari bertanya: Apa beban yang sedang kupikul sekarang? Sudahkah aku membawanya kepada Tuhan? Ataukah aku terus memaksakan diri berjalan sendiri?
Kadang kita tidak butuh jawaban langsung. Kadang kita hanya butuh tempat bersandar. Dan Kristus selalu membuka tangan-Nya. Datanglah. Dengan luka. Dengan lelah. Dengan air mata. Dengan segala yang berat. Karena di hadapan Tuhan, tidak ada beban yang terlalu besar.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkau tahu beban hidup yang kami pikul. Ajarlah kami untuk datang kepada-Mu dengan hati yang terbuka. Ringankan langkah kami, kuatkan hati kami, dan berilah kami damai di tengah segala pergumulan hidup. Jadilah tempat istirahat jiwa kami, hari ini dan selamanya. Amin.
Oleh: Tim Dokumentasi dan Publikasi KBG