| Foto: Sumber Pinters |
Bacaan Injil: Matius 10:7-15
“Dengan cuma cuma kamu telah memperoleh, karena itu berikanlah pula dengan cuma cuma.”
Hari ini Yesus melanjutkan pengutusan kedua belas rasul. Ia tidak hanya mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan Allah, tetapi juga memberikan cara hidup yang harus mereka jalani. Mereka diminta untuk tidak mengandalkan harta benda, tidak mencari keuntungan dari pelayanan, dan tidak menjadikan pewartaan Injil sebagai sarana mencari kehormatan.
Yesus mengingatkan bahwa segala sesuatu yang mereka miliki adalah anugerah. Karena itu, anugerah itu harus dibagikan dengan hati yang tulus. Sabda ini juga ditujukan kepada kita.
Sering kali kita lupa bahwa hidup ini penuh dengan pemberian Tuhan. Nafas yang kita hirup, kesehatan, keluarga, pekerjaan, kemampuan yang kita miliki, bahkan iman kita, semuanya adalah rahmat. Tidak ada yang benar benar kita miliki karena usaha kita sendiri. Namun, ketika menerima banyak berkat, kita kadang menjadi pelit untuk berbagi. Kita mudah menyimpan waktu hanya untuk diri sendiri. Kita enggan berbagi perhatian kepada anggota keluarga. Kita sulit mengampuni karena merasa terlalu terluka. Kita menahan kemampuan yang sebenarnya dapat dipakai untuk melayani Gereja dan sesama.
Padahal Yesus berkata, "Dengan cuma cuma kamu telah memperoleh, karena itu berikanlah pula dengan cuma cuma." Artinya, kasih yang kita terima dari Tuhan tidak boleh berhenti pada diri kita. Kasih itu harus mengalir kepada orang lain.
Di tengah kehidupan saat ini, dunia semakin dipenuhi semangat persaingan. Banyak orang bertanya, "Apa keuntungan yang akan saya dapat?" Bahkan dalam pelayanan Gereja, godaan untuk mencari pujian, penghargaan, atau pengakuan juga bisa muncul.
Injil hari ini mengingatkan bahwa pelayanan sejati lahir dari kasih, bukan dari kepentingan pribadi. Santo Fransiskus Asisi pernah berdoa, "Ya Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai. Biarlah aku lebih ingin menghibur daripada dihibur, lebih ingin memahami daripada dipahami, lebih ingin mengasihi daripada dikasihi." Doa ini mengajarkan bahwa hidup seorang murid Kristus bukan berpusat pada apa yang diterima, tetapi pada apa yang dapat diberikan.
Paus Benediktus XVI juga pernah mengatakan, "Dunia menawarkan kepadamu kenyamanan. Tetapi engkau tidak diciptakan untuk kenyamanan. Engkau diciptakan untuk kebesaran." Kebesaran itu bukan diukur dari jabatan atau kekayaan, melainkan dari kemampuan mencintai tanpa pamrih.
Hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah aku bersyukur atas rahmat yang Tuhan berikan? Apakah aku menggunakan talenta yang kumiliki untuk melayani? Apakah kehadiranku menjadi berkat bagi keluarga, komunitas, dan Gereja?
Setiap hari Tuhan memberi kita kesempatan untuk menjadi saluran kasih-Nya. Mungkin bukan melalui hal-hal besar. Mungkin melalui satu senyuman. Satu kunjungan kepada orang sakit. Satu kata penghiburan. Satu doa bagi mereka yang menderita. Satu tindakan jujur ketika orang lain memilih jalan yang mudah. Semua itu adalah pemberian yang lahir dari hati yang telah lebih dahulu menerima kasih Allah.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkau telah melimpahkan begitu banyak rahmat dalam hidup kami. Ajarlah kami untuk tidak menyimpan berkat itu bagi diri sendiri, tetapi membagikannya dengan tulus kepada sesama. Jadikanlah hidup kami saluran kasih, damai, dan sukacita bagi setiap orang yang kami jumpai. Amin.
Oleh: Tim Dokumentasi dan Publikasi KBG