
Foto: Sumber Pinteres
Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis
Bacaan Injil: Lukas 1:57-66.80
"Namanya adalah Yohanes."
Hari ini Gereja merayakan kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, satu dari sedikit santo yang hari kelahirannya dirayakan secara khusus dalam liturgi. Ini menunjukkan bahwa sejak awal hidupnya, Allah sudah punya rencana besar atas dirinya.
Kelahiran Yohanes bukan sekadar cerita tentang seorang anak lahir dari keluarga tua. Ini adalah kisah tentang Allah yang bekerja dalam keterbatasan manusia. Santa Elisabet dan Santo Zakharia telah lama menanti, mungkin hampir kehilangan harapan. Tetapi Allah datang pada waktu-Nya sendiri.
Sering kali kita juga hidup seperti itu.
Ada doa yang terasa belum dijawab.
Ada harapan yang tertunda.
Ada pergumulan yang seolah tidak selesai.
Dan dalam penantian panjang itu, kita mudah berpikir bahwa Tuhan diam.
Tetapi hari ini Yohanes lahir sebagai tanda bahwa diamnya Tuhan bukan berarti absennya Tuhan. Kadang Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Nama “Yohanes” berarti Tuhan berbelas kasih. Menariknya, nama itu bukan pilihan keluarga, tetapi kehendak Allah. Ini menegaskan satu hal: hidup ini bukan pertama-tama milik kita, tetapi milik Tuhan.
Yohanes tumbuh bukan untuk dirinya sendiri. Ia lahir untuk mempersiapkan jalan bagi Kristus.
Dan di sini kita diingatkan: setiap orang pun punya panggilan yang sama — menjadi jalan bagi Tuhan hadir dalam dunia.
Hari ini, dunia dan juga Gereja membutuhkan lebih banyak “Yohanes”:
orang-orang yang berani bersuara untuk kebenaran,
orang-orang yang tetap setia meski tidak populer,
orang-orang yang lebih memilih menjadi penunjuk jalan daripada pusat perhatian.
Karena masalah zaman ini justru kebalikannya: banyak orang ingin dilihat, tetapi sedikit yang mau menunjukkan Kristus.
Bahkan dalam hidup menggereja, kadang pelayanan bisa bergeser menjadi soal gengsi, jabatan, atau pengaruh. Kita sibuk membangun nama sendiri, tetapi lupa membawa orang kepada Tuhan.
Padahal Yohanes memberi teladan yang sangat kuat ketika berkata:
"Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil."
(Santo Yohanes Pembaptis, Yoh 3:30)
Itulah inti kekudusan: membiarkan Tuhan bertumbuh dalam hidup kita, sementara ego kita makin diperkecil.
Santo Agustinus dari Hippo pernah berkata:
"Kerendahan hati adalah fondasi semua kebajikan."
Tanpa kerendahan hati, iman mudah berubah menjadi kesombongan rohani.
Hari ini, kita bisa bertanya dalam hati:
Apakah hidupku sungguh mempersiapkan jalan bagi Tuhan?
Apakah kata-kata dan tindakanku membawa orang lebih dekat kepada Kristus?
Atau justru menjauhkan?
Mungkin panggilan kita bukan melakukan hal besar.
Mungkin cukup menjadi “Yohanes” kecil di rumah:
membawa damai dalam keluarga,
menghidupkan doa bersama,
mengajak sesama kembali ke Gereja,
menguatkan yang lemah,
dan berani berkata benar.
Karena dunia berubah bukan hanya oleh orang besar, tetapi oleh orang-orang kecil yang setia pada panggilannya.
Doa Penutup
Tuhan, seperti Engkau memanggil Santo Yohanes Pembaptis sejak awal hidupnya, panggillah juga hati kami untuk setia pada kehendak-Mu. Ajarlah kami menjadi pembawa terang, penunjuk jalan bagi sesama, dan rendah hati agar Engkau semakin besar dalam hidup kami. Amin.
Oleh: Publikasi dan dokumentasi kbg