| Foto: Prairie Church, Malta Montana (pinterest) |
Bacaan Injil: Matius 6:19–23
"Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."
Hari ini Yesus mengajak kita memeriksa satu hal yang sangat mendasar: di mana hati kita tinggal? Sebab hati manusia selalu mengikuti apa yang dianggap paling berharga. Kalau yang kita simpan hanya perkara dunia—uang, pujian, jabatan, pengakuan—maka hati kita mudah gelisah, mudah iri, dan mudah hancur ketika semuanya hilang.
Yesus berkata dengan sangat jelas: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi.” Bukan berarti harta itu salah. Bukan berarti bekerja keras itu dosa. Tetapi Yesus sedang mengingatkan: jangan biarkan hidupmu dikuasai oleh apa yang fana.
Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang mengukur nilai hidup dari apa yang tampak: seberapa ramai media sosial, seberapa besar rumah, seberapa tinggi posisi, atau seberapa banyak orang memuji. Bahkan dalam hidup menggereja pun godaan itu masuk. Kadang pelayanan berubah menjadi panggung. Kadang kegiatan rohani lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga kasih. Kadang umat lebih cepat hadir saat ada pesta, tetapi lambat hadir saat doa lingkungan, rosario, atau pendalaman iman.
Yesus menyebut mata sebagai pelita tubuh. Artinya, apa yang kita pandang akan membentuk seluruh hidup kita. Kalau mata kita hanya tertuju pada dunia, hati kita jadi gelap. Kita mulai kehilangan rasa cukup, kehilangan syukur, dan perlahan kehilangan Tuhan.
Saint Augustine of Hippo pernah berkata:
"Hatiku gelisah sampai beristirahat dalam Engkau."
Kegelisahan manusia modern sering lahir karena kita mencari kepenuhan di tempat yang salah. Kita ingin damai, tapi mengejar hal-hal yang tidak pernah memberi damai.
Di banyak komunitas Gereja hari ini, kita melihat tantangan nyata: umat makin sibuk, relasi antar keluarga makin renggang, doa bersama mulai dianggap tidak penting, dan iman kadang hanya menjadi rutinitas Minggu. Padahal Gereja hidup bukan pertama-tama dari gedungnya, tetapi dari hati umat yang terus tertuju pada Kristus.
Saint Romuald, yang pestanya juga dikenang hari ini, memilih hidup dalam keheningan dan doa. Ia meninggalkan kenyamanan dunia untuk mencari “harta di surga.” Dari hidupnya kita belajar bahwa kadang untuk menemukan Tuhan, kita perlu berani melepaskan banyak hal yang mengikat hati.
Maka hari ini pertanyaannya sederhana:
Apa yang paling mengisi hati kita?
Apakah Tuhan masih menjadi pusat?
Atau jangan-jangan yang kita kejar selama ini hanya hal-hal yang akan lapuk?
Barangkali renungan ini menjadi undangan kecil untuk kembali:
kembali setia pada doa,
kembali hadir dalam Ekaristi,
kembali membangun kebersamaan lingkungan,
kembali memberi waktu bagi Tuhan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa dalam hati kita tinggal dalam Allah.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarlah kami menaruh hati pada hal-hal yang kekal. Bebaskan kami dari kelekatan yang membuat kami jauh dari-Mu. Terangilah mata hati kami agar kami mampu melihat jalan-Mu dan setia berjalan bersama-Mu. Amin.
Berkat Tuhan menyertai langkahmu hari ini. (thekatolik.com)
Oleh: Dokumentasi dan Publikasi KBG